Senin, 13 Mei 2013

kisah sedih dalam bis bagian 2

lanjut cerita dari kisah sedih dalam bis bagian 1 yah ceman..

Alesan 2.

Waktu itu libur cukup panjang karena di kalender ada tanggal merah. Akhirnya kuputuskan untuk pulang, tapi sebelumnya seperti biasa aku sholat duha dulu dan berdoa biar dapet bis Ac..
Depan gerbang kampus, aku naik angkot Caheum - Ledeng, dan jantung berdebar saat mendekati daerah Cicaheum.
"Ya Allah beus Ac beus ac beus aaa.... yesss! beus Ac" saat itu aku menemukan sebuah bis 3/4 berwarna orange jurusan Garut-BAndung (jangan disebutin namanya :D)!
Dengan gembira hati akhirnya aku naik bis itu da duduk di bangku ketiga deket jendela, tujuannya biar bisa menikmati pemandangan sambil dengerin musik.
Saat itu ada bapak2 paruh baya duduk sejok sama aku, dan bispun mulai dipenuhi penumpanng. Bis melaju perlahan dan terdengarlah percakapan sopir dan kondektur "Aaahh amcet tah di ujung berung! Wayahnya wee ieu mah kudu diputerkeun!" kukira perjalanan menuju jalan itu akan lebih cepat dari biasanya, dan akhirnya aku tertiidur di dalam bis dengan headset yang menggantunng di kupingku.
"Punten we nya karidoanana kanggo solar ieu mah nambihan!" Sebuiah suara lantang membangunkannku, kondektur itu memberi ultimatum ke semua penumpang bis. Bis dibelokin ke daerah Majalaya-Cicalengka, hujan yang terus mengguyur membuat bannjir di daerah itu. "Ammpuun baru kali ini aku lihat banjir segede gini!" gumamku. Asyik menikmati pemandangan banjir, sbuah tangan menepuk pundakku, aku menoleh dan ternyata itu kondektuur yang mau nagih onkgos. Aku memberikan selembar uang 10 ribu dan satu lembbar 5 ribu. "Neng, 5 rebu deui kanggo solar!" Kata si kondektur itu, "Busyeeeett 20 ribuan cing?" dengan jamedud aku nambah ongkos 5 ribu. namun tiba-tiba terdengar sebuah suara bapak tua di seberang krusi yang aku duduki. Ini adalah kronologisnya BT=bapak tua. EK= emang kendek
BT : naha atuh jadi dua kali lipat?
EK : Muhun pan abdi tadi tos nyarios nambi
BT : Pand abbdi mah nembe ge naek! Padahal mah wartosan, pami anu sanggem mangga lajengkeun pami anu henteu mah sina milari nu sanes.

Setelah percekcokan itu terjadi,sang supir yang mendengar ikut membela si emang kondektur dan ikut memarahi si bapak tua juga.
Sebenarnya aku juga pengen ngasih tambahan ongkos si bapa tua itu, tapi aku takut si bapa tua itu malu, akhirnya aku cuma bisa mnutup telinga menghindari percekcokan itu.Satu kalimat terakhir yang aku dnegar dari bapak tua itu "Nya atuh pan abi mah jalmi teu gaduh, gajih pas pasan, istri di bumi ngarep-ngarep, katambih ieu ongkos meni awis." Si bapak tua itu tertunduk mengangkat kakinya ke atas jok bis.

Tak lama HP ku bergetar, itu papa yang khawatir karena sejak dari 3 jam aku belumsampai rumah. AKu ceritakan bahwa rute perjalanan diputer ke Majalaya-Cicalengka karena banjir, tapi ini makin parah banjirnya. YAng bikin aku terkejut ketika papa bilang "Naon neng, tadi Papah ti Bandung teu macet teu sing, teu banjir dueih, lancar we siga biasana." yang lebih  buruk lagi si konedktur berkata "Wah salah belok, kuduna tadi teh tong ka kanan..."
Andai aku wonderwomen, ingin rasanya aku memanggil sopir dan kondektur yang marah2 tadi dan berkata..................

KAAAMMMEEEE HHHAAAAMMMEEEE......!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

Tidak ada komentar: