Sabtu, 18 Mei 2013

Wisma Mer.

Namaku Veny, aku seorang mahasiswi jurusan Sasrta di sebuah universitas negeri di Indonesia.
Ini adalah kali kelima aku pindah ke kosan, setelah begitu banayk masalah dengan 4 kosanku yang dulu. Alasannya tak lain karena banyak maling yang memang terhitung nekad. Mereka ga cuma beroperasi malam, tapi siang bolong juga mereka tak segan menjarah kamar kost. Aku berpikir , daripada aku jadi korban selanjutnya lebih baik aku pindah saja ke kosan lain.
Ibuku yang mendengar keputusanku sudah tak bisa berbuat banyak. Mungkin beliau sudah pusing karena kebiasaanku pindah-pindah kosan terus, tapi aku bilang ke ibu kalau ini akan menjadi kost-an terakhirku, dan aku berjanji ga akan pindah kosan lagi.

Setelah beres-beres dan menata kosan baruku itu, aku berbaring sejenak. Aku melihat arlojiku, menunjukkan pukul 16.45, waktu terasa begitu cepat berlalu.
"ttrrtt...ttrrttt.." Ponselku bergetar, kubuka flip ponselku, "Ibu?" aku mengernyitkan dahi sambil mengangkat panggilan dari ibu.
"Halo,Bu?" tanyaku lemas.
"De, gimana udah pindahan?"
"Udah Bu, ini baru aja selesai rapiin kamar."
"Kamu sendirian, Nak? Aldi kemana? Gak bantuin kamu?" Ibu melontarkan beberapa pertanyaan yang membuatku malas menjawab. Aku memang belum mengatakan pada Ibu bahwa aku dan Aldy sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi.
"Nggak Bu, Aldy lagi sibuk sama urusan KKNnya!" jawabku lemas
"Ohh... eh ngomong-ngomong kamarmu madep ke arah mana? Inget pesen eyang ya, jangan sampai salah arah kamar."
"Astaga! Aku lupa!" gumamku "Emmhh...iya Bu, arah kamarnya bener ko! Mmmhh maaf Bu, ade pengen istirahat dulu ya, pegel nih abis angkat2 barang. Nanti telfon lagi aja ya Bu?"
"Iya iya De, istirahat dan jangan lupa makan."
Setelah itu Ibu menutup telfonnya, sementara aku terduduk payah di kasur. Kenapa aku bisa lupa pesan Ibu agar tidak salah arah hadap kamar? Sedangkan tak ada kamar lain yang kosong selain kamarku itu.
Aku tak mau ambil pusing, dan segera mengambil air wudhu lalu shalat maghrib. Aku berdoa pada Allah agar tidak terjadi apa-apa karena kebodohanku ini.

Singkat cerita, subuh tiba. Sekitar pukul 4.30 aku mengambil handuk dan hendak mandi. AKu memang harus bangun lebih awal karena jarak kost dan kampus cukup jauh. Entah mungkin aku yang masih ngantuk, atau salah penglihatanku, sebuah kaki kecil hitam, penuh memar, darah dan luka masuk ke dalam kamar mandi di bagian ujung. Aku mengucek mataku dan mempertajam penglihatanku. "Ya ampun yang tadi apa ya?" Tanyaku dalam hati.
Setelah terdiam cukup lama , akupun masuk ke kamar mandi.
***********

"Hay Ven! Lemes banget!" Naura temanku yang baru datang segera duduk di sampingku.
"Iya nih, hari pertama datang bulan, bikin males ngapa-ngapain!"
"Hmmhh biasa kali itu mah,, eh katanya Lu udah pindah kosan yah?" sahut Naura, aku hanya mengangguk,
"ke mana?" Lanjutnya
"Ke Wisma Mer!" Jawabku lemas
"WISMA MER???" Naura nampak kaget mendengar jawabanku.
"Iya, emang kenapa Na? Kok kaget gitu?" Tanyaku yang jadi penasaran.
"Hah? Eh hehe emmh engga engga... eh ada dosen!" Naura segera membenarkan tempat duduknya. AKu melihat raut mukanya yang berubah jadi aneh.
Perkuliahanpun dimulai..
*************

Pukul 12.20
Naura mengajakku jalan-jalan sambil cuci mata. Dia memang teman yang paling mengerti yang selalu mencoba menghiburku untuk move on dari bayangan Aldy.
"Ven, maen yu? Kemana gitu kita refreshing. Kan Lu udah cape-capean nih kemarin pindahan."
"Mmmh boleh. Berdua doang?"
"Enggak, gue ngajak Tommy juga. Kita pergi pake mobilnya Tommy."
Tommy adalah tunangannya Naura, dan sekarang dia ada bersama kami.
Aku duduk di kursi belakang, sementara Naura duduk di depan bersama Tommy.
"Eh Na gue lupa. Kak, kalo ke kosan aku dulu boleh ga? Aku mau bawa uang sekalian nyimpen buku biar gak berat!" Aku menepuk pundak Tommy yang kupanggil kakak.
"Oke, di Klorofil kan?" Tanya Ka Tommy.
"Enggak Kak, aku udah pindah ke Wisma Mer." Jawabku. Sama dengan Naura, ekspresi wajah Kak Tommy juga kaget saat dia mendengar nama 'Wisma Mer'
"Wisma Mer,Ven? Yang deket TK Belnada itu? Sejak kapan kamu tinggal di sana?" tanyanya.
"Iya Kak, yang deket TK itu. Baru seminggu pindahan sih Kak. " Mendengar jawabanku, Kak Tommy hanya mengangguk.

Mobil meluncur dan tak terasa sudah berhenti di depan gerbang kosku. Pintu selamat datang bertuliskan WISMA MER dengan huruf E yang sudah sedikit miring memang banyak membuat orang yang lewat sana merinding. Terlebih tepat di sebelah kiri itu terdapat sebuah Taman Kanak-kanak yang telah dipenuhi semak belukar. Arena bermain sudah rusak semua, dan TK itu nampak sangat gelap walaupun di siang hari. Terdapat tulisan berbahasa Belanda di sekitaran dinding TK itu, tapi sayang aku tak bisa membacanya satu persatu.

"Kita nunggu di mobil aja ga apa-apa Ven?" Tanya Naura
'Oh iya ga apa-apa lah Na, lagian gue cuma bentar kok. Oke?"
Aku keluar dari mobil dan segra berlalri menuju kamar. Aku ambil bebrapa lamebar uang yang selalu kusembunyikan di dalam brankas. Akupun keluar kamar, tapi..
"Eh lupa! Ngapain bawa ginian?"
Sebua buku sastra yang cukup tebal kukeluarkan dari dalam tasku, dan kulempar ke arah kasur.
"Buk!!" suara buku mengenai kasur, dan "Aduhhhh saaakiiitt!!!"
"Astagaa!! SIapa tuh!!!?" Aku kaget dan berbalik arah saat mendengar suara erangan anak kecil kesakitan dari dalam kamarku. KAu membuka pintu kamar dan tak ada siapapun. Sepi...
Angin berhembus cukup kencang dari dalam kamarku, membuat bulu kudukku merinding. AKu segera mengunci pintu dan berlari keluar menuju mobil.
"Aduh maaf lama!" Ucapku, aku masuk ke mobi lalu mobilpun melaju pergi meninggalkan Wisma Mer.
***********

Kesenanganku hang out bersama Tommy dan Naura membuatku lupa waktu. Kulihat arlojiku ternyata waktu sudah menunjukkan pukul 23.15.
"Oh My God! Udah tengah malem lagi nih. Balik yu Na?" Ajakku pada Naura
"Iya Ayo! Gue juga udah cape banget nih."
Kami bertiga meninggalkan keramaian saat itu. Naura tampak sangat mengantuk dan segera tertidur di mobil. Aku kembali merasakan sakit perut akibat haid dan membuatku tak bisa tertidur seperti Naura.
Melihatku masih terjaga, Kak Tommy mengajakku ngobrol.
"Ven, kok kamu pindah kosan? Padahal Klorofil lebih deket ke kampus kan?" Kak TOmmy membuka obrolan.
"Iya nih Kak, di Klorofil anak-anaknya gitu ah, mereka egois dan suka ganggu ketenangan orang!"
"Maksudnya?" Kak Tommy keheranan.
"Iya, mereka kalo ngobrol tuh teriak-teriak, ketawa kenceng banget, dan ga tau waktu."
Kak Tommy mengangguk mendengar penjelasanku, "Terus darimana kamu tau Wisma Mer?" dia kembali bertanya.
"Oh itu, aku ga sengaja waktu masih sama Aldy jalan dan lewat ke sana. Yaaa aku rasa wisma itu sepi dan tenang Kak." Kak Tommy kembali mengangguk. AKu teringat kejadian tadi saat aku melempar buku sastraku ke kasur dan mendengar erangan anak kecil. Ingin aku menceritakannya pada Kak Tommy, namun sayang aku sudah sampai.
"Kok sepi banget sih Ven?" Tanya Kak Tommy.
"Iya Kak, aku juga ga tahu penghuni yang lain pada ke mana. Makasih ya Kak udah nganter. Ga usah bangunin Naura, kasian kayanya dia cape."
"Iya sama-sama Ven. Mau kaka anter sampe dalem?" Tawarnya
"Ah Ga usah kak, makasih yah."
"Yaudah kalo gitu, hati-hati Ven!"
Aku keluar dari mobil. Suasana gelap menyambutku malam itu. AKu mendorong gerbang kuat-kuat, cukup berat karena gerbang itu terbuat dari besi yang sangat tebal. Cahaya dari mobil Kak Tommy sangat membantuku menyusuri jalan menuju wisma.
Aku membuka pintu kamar, dan segera membanting badanku di atas kasur. Dengan segera aku terlelap dan tak ingat apa-apa.

Entah itu mimpi atau bukan. AKu tiba-tiba saja berada di sebuah taman yang luas namun gelap dan hanya ada seikit cahaya remang bulan purnama. AKu bingung dan melihat  ke sekeliling. Tak lama datanglah dua sosok yang tak kukenali. Sosok seorang wanita tua berbaju hitam panjang, berkulit putih, dengan sanggul rambutnya, dan seorang anak kecil berbaju merah, berambut panjang pirang sedang menangis. AKu bisa melihat ada darah mengalir di kening anak kecil itu.
Aku tak tahu apa yang terjadi. Sepertinya wanita tua itu marah-marah padaku, namun aku tak mengerti apa yang dia bicarakan. Matanya merah melotot dan tangannya menunjuk-nunjuk ke arahku.
"PLAK!!"
Perempuan tua itu menamparku dan segera berlalu meninggalkan aku yang masih berdiri kaku.
*****************
"Tiipppp...Tiiippp..."
Weker berbunyi, sudah pukul 4.30 pagi. Aku terbangun dengan kepala yang benar-benar pusing dan berat. "Huh! Cuma mimpi!" gerutuku. Namun saat aku hendak pergi mencuci muka, aku mendapati pipiku memar merah dan ada bekas jari seperti bekas tamparan. Jantungku berdegup kencang dan aku kembali memastikan apa yang terjadi pada pipi kananku. "Ya Allah, ada apa ini?" ternyata memang benar itu bekas tamparan. Seketika tubuhku terasa melayang dan terkulai jatuh di lantai.

Sepertinya Tuhan masih berpihak padaku. Ponselku berdering dan kulihat 34 panggilan tak terjawab dan semuanya dari Naura. Begitupula 18 pesan yang kuterima dari Naura. Isinya menanyakan keadaanku yang tak masuk kuliah hari ini.

Terdengar deru mobil dari luar. Aku yang masih dalam posisi terbaring tak kuasa melihat ke luar sekedar ingin tahu siapa yang datang. Terjawab. sebuah langkah kaki terkesan mengarah ke kamarku. "Veennn... Venyyy!" Naura berteriak memanggil namaku. Dia memang belum tahu letak kamarku.
"Astaga Veny!" Naura masuk ke kamarku karena hanya kamarkulah yang pintunya terbuka. "Ya Ampun! Pipi lo kenapa?" Naura memangkuku dan memegang pipiku yang masih memar. "Gue panggilin dokter ya?" Dia mengambil ponselnya, namun aku menghentikannya "Jangan Na! Ga usah!" AKu masih lemas.
Tak lama kemudian datang Kak Tommy dengan temannya Kak Barry. Mereka lalu masuk dan menempatkanku di kasur. Terlihat Kak Barry berdiri di luar dan seperti sedang berbincang dengan seseorang. Padahal di sini hanya kami berempat.
Kak Barry memang memiliki kelebihan dalam hal supranatural.
"Kaka sengaja ngajak Barry, karena kaka udah ngerasa ga enak sejak kemarin malem." Kata Kak Tommy. AKu hanya tersenyum dan mengucapkan terimakasih.
Barry masuk ke kamarku dan melihat keadaanku. Dia memegang keningku yang panas karena suhu tubuhku yang naik.
"Kemarin kamu ngelakuin apa aja,Ven?" Kak Barry bertanya padaku. Segera kuceritakan semua yang terjadi, dari awal aku melempar buku sastra hingga mimpi ditampar wanita tua.
Kak Barry mengangguk, kemudian berkata,
"Memang sebenarnya di sini banyak hal yang ga bisa kamu lihat Ven. Suara anak kecil itu adalah suara anak yang ada di mimpi kamu. Saat kamu pergi meninggalkan kamar ini, sebenarnya kamarmu ini ga kosong, mereka para sosok dari dunia lain mengisi kamarmu ini. Sayangnya kamu tiba-tiba kembali dan melempar buku itu sampe kena kening astral anak kecil. Wanita tua yang marahin kamu sampai nampar kamu itu adalah nenek dari gadis kecil itu. Dia marah atas perbuatan kamu sama cucunya."
Aku terdiam, lalu aku berkata "Tapi kan itu bukan salahku kak, aku ga tau mereka ada di sana saat itu."
Kak BArry tersenyum melihatku "Kakak sudah bilang dan minta maaf sama mereka."
"Makasih ya kak." Kataku
Kak Barry mengambil segelas air dan mengusapkannya ke pipiku. Dia bilang besok aku akan sembuh.
**********

Untuk sementara aku menginap di rumah Naura. Aku berpesan pada mereka agar tak menceritakan apapun pada orang tuaku.
Malam harinya aku banyak berbincang dengan kak Barry. Dia bilang wanita tua dalam mimpiku adalah Mer. Seorang wanita Belanda yang membangun rumah besar yang kini sebagian kamarnya menjadi kamar kosku. TK Belanda di sebelah wismaku itu adalah TK miliknya. Namun tepat tahun 1908 terjadi penggusuran hebat terhadap warga Belanda dan menyebabkan Mer tertembak mati bersama murid TK nya. Kecuali seorang anak perempuan bernama Suzzan yang berlari ke dalam rumah Mer dan bersembunyi di dalam kamarku. Tapi akhirnya Suzzan juga terbunuh entah karena apa.

Mungkinkah aku harus pindah untuk keenam kalinya?
Entahlah...




Tidak ada komentar: