Ibu....
Langit itu berwarna apa?
Merah itu seperti apa?
Ibu...
Apakah semua bunga itu berduri?
Ibu...
mengapa jatuh itu menyakitkan?
Ibu...
Suara piano itu bagaimana?
Apakah piano dan biola itu sama?
Ibu...
Mengapa air dapat menghapus dahagaku?
Mengapa sutera begitu lembut?
Ibu...
Lebih baik mana..dicintai?
Atau aku harus mencintai?
Ibu...
Bagaimana keadaan di luar sana?
Gelapkah?
Ibu...
Mengapa aku suka piano?
Mengapa tuts piano hanya hitam dan putih?
Ibu..
Mengapa piano dapat mengalunkan nada yang indah?
Mengapa gitar tidak seperti piano yang memiliki tuts?
Ibu...
Aku lelah...
Namun...
Masih banyak yang ingin kutanyakan padamu...
Ibu...
Dapatkah kau mendengarku?
Ibu...
Aku di sini...
Ibu....
Ibu...
Gadis yang gak jelas kelakuannya dan geje menurut teman-temannya ini sulit mengubah pendiriannya, memiliki cita-cita sebagai seorang pemain musik namun terjebak di kelas bahasa dan sangat tidak mungkin baginya untuk keluar..
Minggu, 23 Juni 2013
Rabu, 12 Juni 2013
Mengingat Hati
Tanah ini kering dan tak dapat memberi kehidupan lagi..
Tak ada setitikpun air yang menetes darinya..
Retak..
Rapuh..
dan.... terbuang...
Ini adalah tanah hatiku..
Kupejamkan mataku...
Mengingat apa yang dulu kulakukan..
Tuhan...
Mengapa Engkau gariskan takdirku seperi ini..?
Aku telah jatuh dalam kesalahan yang tak termaafkan.
Aku hanya bayangan dosa yang mengotori dunianya.
Tak dapatkah dia memaafkanku?
Tak dapatkah dia berbaikan denganku?
Tuhan..
Apakah semua yang pernah kulakukan tak berarti untuknya?
Apakah semua yang telah kuberikan tak bernilai baginya?
Ah...
Apalagi yang kumiliki?
Apalagi yang harus kubanggakan?
Aku telah begini..
Tak dapat kupupuk lagi tanah ini..
Ah..
dari mana kudapatkan air yang dahulu mengalir deras di sini?
Tanah ini amat rapuh..
Hingga tak dapat dipijak lagi...
Kuterimakan Tuhan..
Aku percaya Engkau takkan memberi beban berat di pundakku..
Tapi Tuhan..
Katakanlah padaku...
Akankah aku bahagia melihat menjauhiku?
Akankah aku bahagia melihat dia bersama teman yang dia puja?
Katakanlah Tuhan..
Sadarkan aku Tuhan..
Aku telah mati karenanya..
Sadarkan aku Tuhann...
Aku sudah tak berarti lagi baginya...
Tak ada setitikpun air yang menetes darinya..
Retak..
Rapuh..
dan.... terbuang...
Ini adalah tanah hatiku..
Kupejamkan mataku...
Mengingat apa yang dulu kulakukan..
Tuhan...
Mengapa Engkau gariskan takdirku seperi ini..?
Aku telah jatuh dalam kesalahan yang tak termaafkan.
Aku hanya bayangan dosa yang mengotori dunianya.
Tak dapatkah dia memaafkanku?
Tak dapatkah dia berbaikan denganku?
Tuhan..
Apakah semua yang pernah kulakukan tak berarti untuknya?
Apakah semua yang telah kuberikan tak bernilai baginya?
Ah...
Apalagi yang kumiliki?
Apalagi yang harus kubanggakan?
Aku telah begini..
Tak dapat kupupuk lagi tanah ini..
Ah..
dari mana kudapatkan air yang dahulu mengalir deras di sini?
Tanah ini amat rapuh..
Hingga tak dapat dipijak lagi...
Kuterimakan Tuhan..
Aku percaya Engkau takkan memberi beban berat di pundakku..
Tapi Tuhan..
Katakanlah padaku...
Akankah aku bahagia melihat menjauhiku?
Akankah aku bahagia melihat dia bersama teman yang dia puja?
Katakanlah Tuhan..
Sadarkan aku Tuhan..
Aku telah mati karenanya..
Sadarkan aku Tuhann...
Aku sudah tak berarti lagi baginya...
(senyum dariku yang telah mati)
Langganan:
Komentar (Atom)

